• SELAMAT DATANG DI PORTAL RESMI MILIK PEMERINTAH DESA HATAWANO KECAMATAN WAPLAU KABUPATEN BURU

Festival Mandi Safar 2025 di Desa Hatawano Berlangsung Meriah, Warga Lestarikan Tradisi dengan Penuh Kekhidmatan

User Icon Pemdes Hatawano • Jumat, 29 Agustus 2025 • Di baca 14 Kali

Festival Mandi Safar 2025 di Desa Hatawano Berlangsung Meriah, Warga Lestarikan Tradisi dengan Penuh Kekhidmatan

Buru — Tradisi budaya menjadi wadah penting bagi masyarakat untuk menjaga identitas dan memperkuat kebersamaan. Hal ini terlihat jelas saat Festival Mandi Safar yang digelar masyarakat Desa Hatawano, Kecamatan Waplau, Kabupaten Buru, pada 27 Agustus 2025. Kegiatan tahunan ini kembali berlangsung meriah dan sarat makna, diikuti oleh ratusan warga dari berbagai usia yang dengan antusias berpartisipasi menjaga dan merayakan warisan leluhur.

Acara yang sudah lama menjadi bagian dari sejarah budaya masyarakat Hatawano ini dimaknai sebagai simbol pembersihan diri, penolak bala, serta bentuk syukur atas kesehatan dan keselamatan. Tradisi Mandi Safar sendiri dilakukan setiap tahun pada bulan Safar dalam kalender Hijriah, dan telah menjadi agenda budaya yang selalu dinantikan oleh warga desa.


Pemerintah Desa dan Tokoh Adat Berkolaborasi dalam Pelestarian Budaya

Kegiatan tahun 2025 ini diprakarsai oleh Pemerintah Desa Hatawano bekerja sama dengan tokoh adat, pemuka agama, serta para tokoh masyarakat. Kepala Desa Hatawano dalam sambutannya menegaskan bahwa Festival Mandi Safar bukan hanya merupakan tradisi turun-temurun, tetapi juga media untuk mempererat rasa kekeluargaan antargenerasi.

“Festival Mandi Safar adalah identitas budaya desa kita. Melalui kegiatan ini, kami ingin memastikan bahwa generasi muda tetap mengenali dan menghargai tradisi leluhur. Pemerintah desa akan terus mendukung setiap kegiatan yang membawa manfaat sosial dan memperkuat nilai-nilai kebersamaan di tengah masyarakat,” ujar Kepala Desa dalam pidatonya.

Di sisi lain, tokoh adat Desa Hatawano menekankan pentingnya merawat makna filosofis dari tradisi ini. Menurutnya, Mandi Safar bukan sekadar ritual mandi bersama di laut atau sungai, tetapi mengandung nilai spiritual yang mencerminkan permohonan perlindungan, keselamatan, dan ketenangan.


Rangkaian Acara: Doa Bersama, Prosesi Adat, dan Mandi Ritual

Festival dimulai pada pagi hari dengan doa bersama yang dipimpin oleh pemuka agama setempat. Doa ini menjadi bagian yang paling sakral karena menjadi simbol permohonan kepada Tuhan agar masyarakat selalu diberi kesehatan dan dijauhkan dari segala mara bahaya.

Setelah doa bersama, dilanjutkan dengan prosesi adat yang dipimpin para tetua desa. Prosesi ini mencakup pembacaan doa adat, penyampaian nasihat kehidupan, hingga pemberian tanda penghormatan kepada para tokoh adat dan warga yang turut menjaga kelestarian kegiatan budaya desa.

Setelah itu, ratusan warga berjalan bersama menuju lokasi pelaksanaan Mandi Safar yang telah ditentukan. Suasana kekeluargaan terasa kental ketika warga dari berbagai dusun, baik anak-anak, remaja, maupun orang tua, berkumpul dan mengikuti ritual mandi tradisional. Banyak warga tampak menikmati momen ini sebagai ajang mempererat hubungan sosial serta menumbuhkan rasa persatuan.


Meriah dengan Kesenian Lokal dan Kuliner Tradisional

Tidak hanya berfokus pada ritual adat, Festival Mandi Safar 2024 juga dimeriahkan dengan pertunjukan kesenian tradisional, termasuk tarian daerah, musik bambu, serta pembacaan syair-syair adat. Para pemuda desa menampilkan kreativitasnya melalui pentas seni yang turut mendapat apresiasi dari para pengunjung.

Di area sekitar lokasi kegiatan, masyarakat juga membuka stand kuliner tradisional yang menyajikan hidangan khas daerah. Hal ini tidak hanya menambah kemeriahan acara, tetapi juga menjadi ruang ekonomi kreatif bagi warga setempat.


Antusiasme Masyarakat dan Harapan untuk Tahun Berikutnya

Festival Mandi Safar tahun ini dinilai sebagai salah satu penyelenggaraan terbaik selama beberapa tahun terakhir. Tingkat partisipasi yang tinggi dari masyarakat, dukungan penuh dari pemerintah desa, serta kolaborasi antara tokoh adat, tokoh agama, dan pemuda menjadi faktor keberhasilan kegiatan tersebut.

Banyak masyarakat berharap agar Festival Mandi Safar dapat terus dilestarikan dan dikembangkan menjadi agenda budaya tahunan yang lebih besar, bahkan tidak menutup kemungkinan menjadi daya tarik wisata budaya di Kabupaten Buru.

“Tradisi ini bukan hanya tentang mandi bersama, tetapi tentang menjaga hubungan yang harmonis, saling menghormati, dan merawat kebudayaan yang kita warisi dari leluhur,” ungkap salah satu warga yang turut serta dalam ritual tersebut.


Menjaga Tradisi, Merawat Identitas

Festival Mandi Safar 2024 di Desa Hatawano kembali membuktikan bahwa tradisi bukan sekadar simbol masa lalu, tetapi fondasi penting bagi kehidupan sosial masyarakat. Melalui kegiatan ini, masyarakat bersama-sama merawat nilai-nilai budaya yang menguatkan persatuan, memperkaya identitas, dan memperkokoh jati diri desa.

Dengan semangat pelestarian budaya yang terus tumbuh, Pemerintah Desa Hatawano berkomitmen untuk menjadikan Festival Mandi Safar sebagai agenda tahunan yang tidak hanya bermakna bagi masyarakat setempat, tetapi juga menjadi sumber kebanggaan budaya bagi Kabupaten Buru secara keseluruhan.

Bagikan: